Stunting didefinisikan sebagai 3 atau lebih standar deviasi di

Stuntingmerupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibatgizi buruk, infeksi yang berulang, serta stimulasi psikososial yang tidakmemadai. Anak-anak digolongkan sebagai kerdil (stunted) jika tinggi badan sesuai usia mereka terhitung lebih dari2 standar deviasi di bawah rata-rata Standar Pertumbuhan Anak WHO. Sedangkan stuntingyang parah didefinisikan sebagai 3 atau lebih standar deviasi di bawahrata-rata (WHO (2006)).

Ada beberapa tanda yangdapat diartikan sebagai gejala stunting, yaitu :1.     Tinggi badan, berat badan, dan lingkarkepala tidak tumbuh dengan normal sesuai dengan grafik pertumbuhan standar.2.

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

     Lambatnya perkembangan keterampilan fisik,seperti berguling, duduk tegak, berdiri, atau berjalan.3.     Keterampilan sosial dan mental telatberkembang.4.     Perkembangan karakteristik seksualsekunder (misalnya, rambut wajah pada pria, payudara wanita) tertunda pada remaja.Apapenyebabnya?Menurut UNICEF (1998),terdapat 2 faktor utama penyebab stunting yakni asupan makanan yang tidakseimbang dan riwayat penyakit. The World Bank (2007) menambahkan, selain tidakmemadainya makanan dan infeksi, status berat badan lahir juga mempengaruhisecara langsung kejadian stunting.

Menurut Soetjiningsih (1995), tumbuh kembanganak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.Karya Danaei et al.(2016) menunjukkan bahwa tingkat stunting global yang tinggi dikaitkan dengansejumlah faktor yang berisiko, termasuk perawakan ibu yang pendek, pertumbuhanjanin yang terbatas, diare dan gizi anak, dan sanitasi yang buruk.Dampakterjadinya StuntingStunting di awalkehidupan (terutama di 1000 hari pertama sejak pembuahan sampai usia 2 tahundan terus terjadi sampai dengan usia 5 tahun) mengganggu pertumbuhan dan memilikikonsekuensi fungsional yang merugikan anak-anak, yakni sebagai berikut :1.     Penderita stunting memiliki risiko lebihbesar untuk penyakit dan kematian dini.2.

     Stunting dapat mengakibatkan perkembanganmental anak tertunda dan menyebabkan kinerja sekolah yang buruk yang kemudiandapat mengurangi produktivitas di angkatan kerja. 3.     Stunting juga dapat mengurangi kapasitaskognitif dan pendidikan yang buruk dalam kehidupan.4.     Risiko yang lebih tinggi untukmengembangkan kondisi kronis yang tidak menular seperti diabetes dan obesitassaat orang dewasa.

Jika seorang yang stuntedmengalami kenaikan berat badan yang cukup besar setelah usia 2, ada kemungkinanlebih tinggi mengalami obesitas yang disebabkan oleh perubahan metabolik yangdihasilkan oleh malnutrisi kronis, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan metabolismetubuh.5.     Risiko lebih tinggi untuk mengembangkanpenyakit menular lain yang tidak menular seperti hipertensi, penyakit jantungkoroner, sindroma metabolik dan stroke.

6.     Wanita yang stunted semasa kecil memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggiselama kelahiran anak karena panggul mereka yang lebih kecil, dan berisikomelahirkan bayi dengan berat lahir rendah.7.     Pertumbuhan terhambat bahkan bisaditeruskan ke generasi berikutnya (ini disebut “siklus giziantimenerasi”).

Stuntingpada anak usia dini dikaitkan dengan gangguan kemampuan kognitif dan morbiditasdan mortalitas yang lebih tinggi, yang dapat menyebabkan efek panjang dari upahyang lebih rendah dan kehilangan produktivitas (Sudfeld et al., (2015);Prendergast and Humphrey (2014); Victora et al., (2008); Hoddinott et al., (2013a),(2013b); Alderman et al., (2006)). Ibu yang kerdil juga cenderung memiliki anakyang kerdil, sehingga dampak sosioekonomi dan kesehatan yang negatif daristunting dapat bertahan selama beberapa generasi (Onis dan Branca (2016)).

Padatingkat masyarakat, individu yang mengalami stunting tidak memenuhi potensiperkembangan fisik dan kognitif mereka dan tidak akan mampu memberikankontribusi maksimal kepada masyarakat. Oleh karena itu, pengerdilan dapatmembatasi perkembangan ekonomi dan produktivitas, dan diperkirakan dapatmempengaruhi PDB suatu negara sampai 3%.StandarPertumbuhan Anak WHO, yang mengklasifikasikan apakah anak menderita stunting,menemukan bahwa lebih dari 160 juta anak balita terkena dampak stunting padatahun 2012. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengkonfirmasi bahwa 37,2% anakbalita dikategorikan mengalami kerdil pada tahun 2015, yang sudah menurun menjadi27,5% pada tahun 2016. Angka ini membutuhkan perhatian pemerintah karenanegara-negara Asia Tenggara lainnya memiliki persentase kasus stunting yangjauh lebih rendahProgramIntervensi Gizi oleh PemerintahKementerianKesehatan saat ini sedang mempromosikan gerakan nasional percepatan peningkatangizi.

Salah satu programnya adalah mengurangi kasus stunting hingga 40% padatahun 2025. Pemerintahberhasil mengurangi angka balita yang menderita stunting atau kekurangan gizikronis. Dilansir dari Tribun News (2017), data Kementrian Kesehatan menunjukkanbahwa jumlah balita yang mengalami stunting di Indonesia berhasil berkurang dari29% pada 2015 menjadi 27,5% pada 2016. Penurunan ini adalah hasil kontribusi dari2 program intervesi yang pemerintah lakukan. Programpertama adalah pemberian beras sejahtera (rastra). Program ini bertujuan untukmemenuhi kebutuhan kalori, yang mana pemerintah memberikan jatah 15 kg beraskepada setiap keluarga yang terdaftar dalam program ini.  Program kedua adalah Program Keluarga Harapan(PKH), pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp.

1,89 juta tiap tahun. Dengandilaksanakannya 2 program intervensi pemerintah ini, diharapkan dapatmenurunkan jumlah balita stunting di Indonesia.Selainprogram intervensi gizi yag dilakukan oleh pemerintah, BagaimanaCara Mengatasi Masalah StuntingPemerintah telahmengupayakan untuk mengatasi masalah stunting, dan hasilnya cukup baik. Angkastunting di Indonesia telah berkurang tahun demi tahun. Namun itu saja belumcukup.Upayalain yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengadakan program masyarakatuntuk memastikan akses rumah tangga terhadap sanitasi yang layak, ketersediaanair bersih dan makanan bergizi, dukungan pengurangan kemiskinan bagi keluargayang membutuhkan, pendidikan tentang bagaimana memberi makan anak-anak danmelindungi mereka dari infeksi, dan layanan kesehatan yang memadai dan mudahdiakses untuk mencegah dan mengobati infeksi secara kolektif dapat mengurangistunting pada populasi.Stuntingdalam Perspektif IslamIslam mengatur seluruhaspek kehidupan dalam Al Qur’an. Begitu juga untuk masalah stunting ini.

Pada AlQuran Surah Al Baqarah ayat 233 terdapat didalamnya perintah memberi ASI padabayi, ayat ini menekankan bahwa Air Susu Ibu (ASI) sangat penting. Di dalamayat tersebut juga tertulis kewajiban seorang ibu untuk menyusui bayinya selama2 tahun. Peran seorang ayah juga tercantum dalam ayat tersebut, yaitu untukmemenuhi kebutuhan primer dan sekunder si ibu, supaya si ibu dapat menyusui bayinyadengan baik. Rasulullah SAW juga menyampaikanmakanan-makanan yang dianjurkan untuk ibu hamil. Sabda Rasulullah SAW yangbersumber dari Sayyid Ar-Rawndi (Mustadrak Al-Wasail 2: 619, hadits ke-2)berisi perintah kepada para laki-laki untuk memberi makan istrinya yang sedanghamil buah kelapa agar anaknya nanti memiliki akhlak yang baik.

Di dalam Islam jugadiajarkan untuk saling memberi dan membantu sesama manusia. Yang mampu membantuyang membutuhkan, agar terciptanya keseimbangan di dunia.