LATAR prasekolah memiliki dampak atas perkembangan mental anak tersebut.

LATAR BELAKANG Tujuan dan Manfaat Storytelling memiliki banyak sekali manfaat. Kegiatan ini selain mengedukasi juga menghibur. Membuat siapa saja ingin menonton dan mendengarnya. Hal tersebut tidaklah terlepas dari kemampuan Storyteller dalam mengemas cerita yang sedemikian menarik hingga efek dari Storytelling tersebut dirasakan oleh audiens. efek dari kegiatan storytelling ini bermacam-macam, efek tersebut merujuk pada kebermanfaatan yang dirasakan oleh audiens. dampak atau efek salah satunya dapat dilihat dari munculnya respos emosi yang diperlihatkan audiens atas stimulus dari kegiatan storytelling yang mereka dapatkan.  Anak-anak prasekolah dapat kita ketahui adalah mereka yang berumur 3-6 tahun, anak usia prasekolah ini dapat kita ketahui dalam perkembangan mentalnya memiliki fase pembentukan yang nanti akan mempengaruhi kepribadian serta tindakannya di usia yang lebih dewasa. Membantu mereka  memicu respon emosi sebagai salah satu tahap perkembangan emosional di usia dini.   Perkembangan mental tersebut juga dapat dipengaruhi lingkungan sekitarnya, yang mana kegiatan-kegiatan yang melibatkan anak-anak prasekolah memiliki dampak atas perkembangan mental anak tersebut.  Rumusan MasalahMengapa Storytelling menjadi salah satu kegiatan yang perlu dilaksanakan? Terutama bagi anak-anak pra sekolah yang ada di Taman Kanak-kanak, seperti apa manfaat storytelling bagi anak-anak usia prasekolah?, apakah storytelling dapat menimbulkan respon emosi bagi anak-anak prasekolah dan apa manfaat dari hal tersebut jika memang ada?METODE Metode penelitian ini melibatkan 23 siswa/I pada kelompok A dan B TK Islam Lukaman Hakim di Kota Depok, Jawa Barat. Subjek yang terlibat sebanyak 23 siswa laki-laki dan perempuan dengan karakteristik yang kurang lebih sama ditinjau dari segi  usia (4-6) tahun, kemapuan berbahasa Inggris dan,  latar belakang keluarga. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif deskriptif yang meliputi pedoman observasi terstruktur, yang dilengkapi dengan catatan lapangan, rekam video Storytelling, dan rekaman hasil wawancara dengan anak setelah mengikuti kegiatan storytelling.   C. HASIL PENELITIAN Berdasarkan data yang diperoleh, dalam rekan video storytelling, ditemukan bahwa anak-anak dapat menyimak cerita . hal ini dilihat dari respon yang diberikan saat diberikan pertanyaan seputar cerita yang dibawakan. Judul cerita yang dibawakan dalam storytelling terdapat dua judul dengan dibawakan oleh guru yang berbeda. Guru pertama membawakan judul cerita “Annas Bin Malik” seorang pemuda pembantu Rasulullah yang taat lagi cerdik. Saat penuturan cerita anak-anak mendengar dengan baik. Saat ditengah cerita ada beberapa anak yang bosan karena belum memahami, respon anak-anak ini bertanya sesuatu atau berbicara hal yang tidak ada dalam konteks cerita. Sedangkan anak-anak yang lain ada yang mendengar dengan serius dengan tenang, ada juga yang mendengar sambil bercanda. Namun diakhir terdapat anak yang dapat menajawab satu pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh temannya, anak inilah yang mendengarkan cerita dengan serius dan tenang. Selanjutnya cerita kedua, dalam cerita kedua memiliki judul tentang seorang wanita yang bakhil atau pelit. Cerita ini memiliki sambutan yang lebih karena bahasanya yang lebih sederhana, diselipi humor,  dan pembawaan cerita yang menarik. Dimulai dari memusatkan perhatian anak-anak. Dari respon yang dapat diamati, anak-anak mendengar cerita dengan seksama, mereka seketika hening dengan mata yang tidak berkedip saat sesi mencekam diabawakan, saat bunyi petir mereka berkedip dengan gestur tubuh yang kaget.   D. DESKRIPSI PEMBAHASANDongeng adalah cerita lisan. Menurut Danandjaja (1984) cerita rakyat lisan terdiri dari mite, legenda, dan dongeng. Dongeng adalah cerita yang dianggap tidak benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tak terikat oleh waktu maupun tempat. Dongeng, bercerita atau yang dikenal Storytelling dalam bahasa Inggris adalah sebuah kegiatan yang bermanfaat dalam periode perkembangan anak-anak. (Brewster dalam Novi Yanthi). Menjadi satu kegiatan yang menyenangkan dalam satu pendidikan formal Taman Kanak-kanak dalam melaksanakan kegiatan yang menyenangkan dan mengedukasi. Storytelling menjadi salah satu kegiatan yang digemari oleh anak-anak TK Islam Lukman Hakim.     Storytelling atau bercerita dapat mengembangkan kosa kata, kemampuan berbicara, mengekspresikan cerita yang disampaikan sesuai karakter tokoh yang dibacakan dalam situasi yang menyenangkan.  hal ini dapat terlihat saat pembukaan kegiatan storytelling, guru memotivasi anak-anak untuk mendengarkan cerita dengan humor ringan gelak tawapun mewarnai suasana kegiatan tersebut, bahwasanya mengkodisikan anak-anak prasekolah untuk untuk mengikuti kegiatan ini adalah penting, sikap atau suasana yang terlalu kaku akan membuat mereka cepat bosan dan tidak mau mendengarkan.   Musfiroh dalam Rahayu menyatakan bahwa manfaat kegiatan bercerita adalah mengasah imajinasi anak, mengembangkan kemampuan berbahasa, aspek sosial, aspek moral, kesadaran beragama, aspek emosi, semangat berprestasi, dan melatih konsentrasi anak. Menonton Televisi tidaklah sama dengan storytelling, hal ini dikarenakan dengan metode yang lebih sederhana membuat audiens menggunakan otak mereka dengan lebih dibanding dengan menonton Televisi, karena stimulus-stimulus yang diberikan terlalu banyak saat menonton Televisi membuat otak audiens jadi lebih malas bekerja dibandingkan dengan menyimak bercerita ataupun membaca buku. Sehingga kemampuan otak anak-anak akan lebih terasah dengan menyimak bercerita atau membaca buku.   Dari salah satu  pernyataan tersebut dapat kita ketahui bahwasanya Storytelling dapat mengembangkan aspek emosi, hal ini ternyata didukung oleh sebuah penjelasan bahwa dalam aspek emosi atau perkembangan kejiwaan anak-anak diperlukan  beberapa aspek saat kegiatan bercerita, yakni seperti membantu perkembangan imajianasi anak, mendorong anak untuk mencintai bahasa, memberi wadah bagi anak-anak untuk belajar berbagai emosi dan perasaan, seperti marah, senang, cemas, serta emosi yang lain.     Lalu apakah yang dimaksud dengan emosi itu? Menurut Chaplin (1989) dalam Dictionary of Psycology, emosi adalah sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku.Chaplin (1989) membedakan emosi dengan perasaan, perasaan (feelings) adalah pegalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaaan jasmaniah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesiaadalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Serta adalah keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan);keberanian yang bersifat subjektif.  Kemudia menurut Emotions influence thoughts and actions, impact relationships, and contribute to daily interactions (Curenton, 2006).  Banyak psikolog mengetahui 10 atau 12 pasangan dasar emosi. Pasangan dasar itu terkadag dicantumkan sebagai minat-kesenangan, kenkmatan-kebahagiaan, kasi saying-cinta, keterkejutan-kekagetan, distress-menderita, kemarahan-kemurkaan, kejijikan-kemuakkan, kehinaan, kenistaan, malu/segan-keterhinaan, kesedihan-kedudukan, dan bersalah-penyesalan (Izard dalam Beaty : 2013) respon emosional anak-anak prasekolah sepertinya sagat terkait dengan emosi berikut :1) Tertekan, Marah , Takut, Sedih , Terkejut, Tertarik, Kasih sayang dan Senang  Perkembangan anak prasekolah dapat dilihat dari pencapaiannya yakni sejak umur tiga (3) tahun anak-anak dapat diajak berkompromi dengan menggunakan nalarnya, meraka akan semakin sadar akan berperilaku sesuai dengan aturan-aturan dalam situasi yang berbeda. Hal ini dapat dilihat saat kegiatan Storytelling dimulai seorang guru yang menemani mereka dibelakang barisan menginstruksikan untuk bersikap tenang dan mendegarkan kegitan Storytelling dari Guru yang ada di depan, beberapa diantara mereka memahami untuk segera menyesuaikan dengan perilaku tenang sesuai dengan instruksi yang mereka dengar. Dapat bertingkah impulsif dan perhatiannya sulit dialihkan hal ini terlihat dalam rekaman video tersebut terdapat anak laki-laki kelas TK B yang bercanda dengan teman sebayanya saat temannya mulai jahil karena bosan, hal ini terus berlajut hingga kegiatan storytelling dimulai hingga sindiran halus dari guru yang membawakan membuat dua anak ini berhenti untuk bercanda saat kegiatan tersebut. Lebih peka terhadap perasaan oranglain, serta dapat menunjukan sikap prihatin ketika oranglain sedang terluka atau sedih.  hal ini terlihat saat anak-anak mendengar  dongeng yang diabawakan dengan seius dan sedih anak-anak terdiam dengan mimik muka seius dan mata berkaca-kaca meski tidak semua. Mereka benar-benar hening,  tidak bersuara dan hanya terdengar suara rintihan yang diucapkan oleh Guru mereka yang bercerita. Respon emosi yang mereka lakukan adalah emosi sedih, dan takut.    Saat mendongeng kita akan dapat menumpahkan prasaan dan emosi positif kepada oranglain, menunjukan jati diri, bersosialisasi, memberikan pengtahuan kepada oranglain, menebarkan pesona yang terpendam, dalam diri yang belum pernah terungkap, dan juga menciptakan pertemuan kecil yang amat bermanfaat.  kebermanfaatan storytelling tidak hanya dirasakan oleh audiensnya saja, namun juga Storyteller pun mendapatkan hal yang positif, selain itu jika kegiatan ini sukses, tak hanya dua pihak yang mendapat kebermanfaatannya namun juga manfaat itu semakin bertambah saat hubungan antara audiens dan storyteller menjadi lebih dekat.  Lalu seperti apakah manfaat respon emosi dari kegiatan storytelling? Khusus bagi anak, dongeng dapat memberikan rangsangan bagi kcerdasan anak, karena melalui kegiatan bermain, bercanda, dan berinteraksi maka kemampuan berpikir logis dan rasional akan terpacu hingga membentuk percepatan belajar anak. Dampak positif yang nyata pada anak adalah munculnya perkembangan dan kemampuan emosi (emotional quotion) anak dengan sendirinya (tanpa paksaan) sehingga akan terbentuk sikap kreatif, ramah, mudah bergaul, spontan dalam merespons sekitarnya, dan terbangun empati pada lingkungan oranglain yang ada disekitarnya.   EQ (Emotional Quation) memungkinkan kita menentukan pilihan-pilihan yang baik tentangg apa yang akan kita makan, siapa yang akan kita jadikan teman hidup, pekerjaan apa yang akan kita lakukan , dan menjaga bagaimana keseimbangan antara kebutuhan pribadi kita dan kebutuhan oranglain. Telah kita ketahui hidup hanya dengan mengndalkan IQ (Intelectual Quation) ibarat mendapatkan SIM Pertama setelah melewati ujian tertulis saja, IQ hanya meramalkan prestasi kita diatas kertas, dan sejauh mana kita memenuhi standar yang ditetapkan oleh rang lain. Namun, EQ membantu kita menetapkan standar kita sendiri. Orang yang cerdas secara emosional mengetahui perbedaan antara apa yang penting bagi mereka dan apa yang harus diabaikan. Yang terpenting, mereka dapat menyelesaikan ribuan kekecewaan hidup. Mereka sadar betul bahwa “orang-orang paling berontak” diantara kita justru sering gagal pada usia muda.Respon emosi inilah yang dapat membentuk anak-anak dalam melatih kecerdasan emosi mereka yang kelak akan menjadi bekal mereka dalam mengrungi kehidupan selain IQ dan SQ (Spritual Quation).KESIMPULANStorytelling merupakan suatu kegiatan yang mengedukasi juga menyenangkan. Begitu banyak manfaat dari kegiatan Storytelling, tidak terkecuali anak-anak prasekolah. Dalam perkembangannya anak prasekolah ini berusia sekitar 3-6 tahun. Memiliki perkembangan emosional yang sudah dapat menalara dan menerima istruksi, serta memiliki kepekaan perasaan. Storytelling sebgaia salah satu kegiatan yang membuat mereka mejadi lebih aktif lagi dalam memberikan respon emosi dari cerita yang diberikan oleh guru mereka membuat hal tersebut menjadi lebih progresif dalam meningkatakan perkembangan emosi anak-anak prasekolah.    Mengembangkan aspek emosi. hal ini ternyata didukung oleh sebuah penjelasan bahwa dalam aspek emosi atau perkembangan kejiwaan anak-anak diperlukan  beberapa aspek saat kegiatan bercerita, yakni seperti membantu perkembangan imajianasi anak, mendorong anak untuk mencintai bahasa, memberi wadah bagi anak-anak untuk belajar berbagai emosi dan perasaan, seperti marah, senang, cemas, serta emosi yang lain.     respon emosional anak-anak prasekolah sepertinya sagat terkait dengan emosi berikut :1) Tertekan, Marah , Takut, Sedih , Terkejut, Tertarik, Kasih sayang dan Senang respon ini kemudian dicoba oleh anak Taman Kanak-kanak Lukman Hakim saat mengikuti kegiatan Storytelling. Respon emosi tersebut kedian didapatkan saat kegiatan tersebut berlangsung, hal ini membuat mereka jauh lebih aktif dan berekspresi dan merespon cerita yang mereka dapat. Sehingga pesan-pesan dari kisah yang dituturka dapat difahami dengan baik. Ternyata hal ini membuat kecerdasan emosional juga lebih meningkat. Tanpa adanya kecerdasan emosional seseorang tidak dapat meraih kesusesan dengan lebih gemilang. Dan bekal inilah yang perlu dimiliki anak-anak prasekolah dalam membebtuk keperibadian mereka jauh lebih baik lagi.