Hubungan and international laws made about this drug. All

Hubungan
Jaringan Narkoba Internasional Dengan Tingkat Peredaran Narkoba

Di
Indonesia

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Avilla
Adwidya Udhwalalita

I72216057

Program Studi Hubungan
Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, UIN Sunan Ampel Surabaya

Abstract

Today
the circulation of drugs can be said to be very – so, drugs can be said as an
extraordinary crime that now has become “enemy” together and get the
attention of all levels of society. This crime is not only an extra concern of
a country but also regional to global region, it is seen from the many
cooperation and international laws made about this drug. All countries are
competing to fight it. No exception Indonesia, with the background as a large
country with a relatively large number of residents make Indonesia also as a target
of this drug. International organized drug networks have defined Indonesia as
their “market” territory. The background of this era of globalization
makes the number of new illnesses emerging, such as stress, therefore, people
in this digital age need an “outlet”. Thus, as an independent and
sovereign country Indonesia has also made these drug regulations.

Key
Words: Drugs in Indonesia, International Drugs Network, transnational crime,
Indonesian regulation.

PENDAHULUAN

“Bisnis” perdagangan barang haram
narkoba dewasa ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Sampai  sekarang ini kegiatan gelap peredaran narkoba
terus meningkat. Walaupun permasalahan mengenai narkoba ini bukan merupakan hal
baru lagi yang dihadapi oleh suatu Negara. Tetapi saat ini permasalahan ini
semakin meningkat dan semakin menjadi dari kian hari, sehingga perlunya mend
Hingga menjadikan permasalahan narkoba ini sebagai mendapatkan perhatian yang
serius dari semua pihak, dan extraordinary
crime yang satu ini telah menjadi musuh global, Negara – Negara di dunia
telah membuat suatu “tembok” untuk membatasi, baik itu dengan batasan yang
“tebal atau tipis”, semuanya dilakukan untuk semakin merajalelanya kejahatan
ini.

Semua Negara berlomba –
lomba dalam menangani kejahatan ini guna melindungi warganya masing – masing,
bahkan Amerika yang merupakan Negara liberal dan Negara adidaya regulasi dengan
ganja yang dilegalkan, tetap membuat suatu batasan agar tidak terjadi suatu
penyalahgunaan terhadap barang haram tersebut. Karena kerjahatan ini sangat
luar biasa, bagaimana bisa kejahatan bisa luar biasa kuat dan memasuki Negara –
Negara ? Hal ini karena kejahatan yang satu ini termasuk dalam Transnational Crime, yang tidak lain
bahwa kejahatan yang terorganisir antar Negara. Hal tersebut yang membuat
kejahatan ini sangat kuat dan terus bertahan bahkan bisa dikatakan tidak
tergoyahkan walaupun banyak regulasi – regulasi yang membatasinya. Lalu
bagaimana dengan peredaran narkoba di Indonesia. Di Indonesia kasus peredaran
narkoba dapat dikatakan sangat rawan. Pada paper kali ini akan dibahas
bagaimana kejahatan ini di Indonesia serta bagaimana pemerintah Indonesia dalam
menanganinya.  

PEMBAHASAN

KEJAHATAN TERORGANISIR DAN
NARKOBA DI INDONESIA

Kejahatan transnasional saat
ini telah menjadi highlight dalam kurun waktu belakangannya ini. lalu bagaimana
dengan kejahatan transnasional tersebut. hal ini mengarah pada sutu kegiatan
kejahatan yang terorganisir dalam suatu organisasi yang terstruktur, serta
kegiatan ini dilakukan dengan lintas Negara. FBI
mempunyai definisi sebagai berikut ” any group having some manner of formalized
structure whose primary obyective is to obtain money through illegal
activities. Such groups maintain their position through the use of threat of
violence, corrupt public affairs, graft or extortion and generally havea
significant impact on the people in their locals or region or country as a
whole. One mayor crime group epitoinizes this definitions-La Costa Nostra”1

Pada dasarnya kegiatan ini memangsa Negara – Negara
dengan system pertahanan yang relative lemah, sehingga membuat para Bandar –
Bandar narkoba internasional ini dapat bergerak secara leluasa. Indonesia yang
merupakan Negara dengan lebih dari 13.000 (tiga belas ribu) pulau, serta
merupakan Negara yang mempunyai jutaan penduduk , sehingga hal tersebut membuat
Indonesia sebagai sasaran empuk para jaringan narkoba besar yang berbasis
internasional, walapun pemerintah telah menggalakkan aparat keamanan Tentara
Nasional Indonesia (TNI), Bea Cukai, serta Badan Narkotika Nasional (BNN),
tetapi untuk mengawasi semua itu butuh kerja ekstra, tetapi hal tersebut belum
tentu tidak bisa di atasi oleh pemerintah Indonesia sendiri.

 PENGUNAAN NARKOBA DI INDONESIA

Penyalahgunaan dan peredaran  barang gelap narkoba, adalah suatu kajian yang saat ini telah menjadi bagian dari  masalah dalam lingkup
nasional maupun secara global. Dalam faktanya, kejahatan perdagangan gelap narkoba memang telah menjadi bagian dari kejahatan transnasional yang dilakukan oleh kelompok
kejahatan terorganisir (organized crime) dan lintas negara. Indonesia sekarang ini dapat dikatakan sebagai salah
satu Negara yang termasuk dalam wilayah darurat narkoba.Hal
ini dikatakan bukan tanpa sebab, berdasarkan data yang diambil oleh Badan
Narkotika Nasional (BNN) pada 2015 (lihat gambar 1.0) saja, telah mencacatkan
suatu angka yang bisa dibilang fantastis. Total terdapat 50 orang meninggal
setiap harinya akibat dari penyalahgunaan narkoba ini. dan hingga sekarang
sekarang ini data yang diambil oleh BNN tidak menurun bahkan terus meningkat
hingga tahun akhir tahun 2017 ini.

Penyagunaan narkoba
Indonesia berada dalam level darurat. Kejahatan
narkoba di Indonesia pada era dewasa ini memang
sangat memprihatinkan, Indonesia para era ini bukan hanya sekedar negara yang menjadi konsumen dari sasaran para Bandar – Bandar
kejahatan ini, dimana sebelumnya Indonesia hanyalah
negara yang menjadi tempat “pemasaran” dari
kejahatan narkoba ini, tetapi  saat ini Indonesia sudah menjadi salah satu negara
produksi
narkoba ini. Trend peningkatan kejahatan narkoba
bisa juga terlihat dalam semakin bertambah jumlah kasus yang dilaporkan serta
jumlah tersangka yang terlibat, baik sebagai pengguna – pegguna awal maupun
sebagai pengedar narkoba.

 

 

JALUR MASUK NARKOBA DI
INDONESIA

Peredaran narkoba di
Indonesia telah menyasar hampir seluruh wilayah yang ada di Indonesia baik
distribusi yang dilakukan oleh jaringan narkoba local maupun internasional.
Serta para jaringan – jaringan narkoba ini telah membuat “peta” jalur
distribusi mereka sendiri untuk sampai ke tangan konsumen mereka.

Indonesia sendiri bahkan
dikatakan sebagai jalur segitiga emas bagi para pengedar narkoba. Karena
Indonesia merupakan wilayah yang sangai strategis baik sebagai wilayah sasaran
maupun sebagai wilayah transit saja (lihat gambar 1.2). Dalam gambar tersebut
dapat dilihat bahwa banyaknya sekali jalur keluar – masuk narkoba baik dari
wilayah darat, laut, dan udara, (walaupun pada gambar hanyalah sebagaian kecil
dari jalur keluar – masuk narkoba Indonesia). Para jaringan – jaringan narkoba
Internasional sering kali menggunakan Indonesia sebagai Negara transit baik
menuju wilayah Australia ataupun Negara lainnya. Tidak hanya transit seperti
yang dikatakan penulis di atas tadi Indonesia juga sebagai Negara sasaran yang
empuk dalam “bisnis” ini. Entah itu Bandar narkoba Internasional yang berasal
dari China hingga Amerika Latin semua telah mengincar dan telah menjalankan
bisnis haramnya tersebut di Indonesia.

SEKURITISASI

Aktor Peredaran Narkoba

Para aktor “utama” dibalik
peredaran narkoba ini telah disinggung sejak dari awal, bahwa mereka adalah
para Bandar narkoba yang mempunyai jaringan narkoba berbasis internasional,
terorganisir dalam prakteknya serta memiliki koneksi – koneksi yang dapat
memuluskan aksinya. Dalam faktanya peredaran narkoba di Indonesia bisa dibilang
sangat banyak dan terstruktur dalam beraksi. Kepala badan narkotika nasional
(BNN) Budi Waseso mengungkapkan, ada 72 (tujuh puluh dua) jaringan narkoba
internasional di Indonesia, dan semua jaringan tidak bersinggungan satu sama
lainnya2.

Penemuan tersebut sangat
menguncang dan mencengangkan, Indonesia sebagai Negara yang merdeka dan
berdaulat, tetapi angka peredaran narkoba ini yang tinggi ini sangat
memprihatinkan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa jaringan narkoba
Internasional sangat suka dengan Indonesia sebagai wilayah sasaranya. Dari 72
jaringan narkoba internasional itu terdapat 11 negara pemasok narkoba ke
Indonesia, dalam prakteknya Negara terbesar penyumbang narkoba adalah Tiongkok,
selain tiongkok terdapat jaringan yanga terdapat di kawasan Afrika dan Amerika
Latin3,  

Bahkan dikutip dari salah
satu sumber  jaringan narkoba yang berada
di wilayah Filipina mulai mengincar Indonesia sebagai wilayah sasaranya. Di Indonesia
sendiri masih segar ingatan kita tentang Bandar narkoba luar biasa Freddy
Budiman yang bahkan bisa menjalankan bisnisnya di balik jeruji, dan dianggap
sebagai Bandar terbesar di Indonesia. Tetapi setelah hukuman mati yang
dijatuhkan kepada Freddy, dalam petengahan 2017 kemarin telah ditangkap lagi
peredaran narkoba dengan angka berton – ton narkoba jenis SS, hal ini membuat
banyak sekali spekulasi bahwa masih Bandar narkoba besar yang masih beroperasi
hingga sekarang ini.

Semua jaringan narkoba yang
masuk dalam Indonesia ini telah ikut bercampur serta berintegrasi. Selain
jaringan narkoba ini tentu saja aktor – aktor lain yang ikut andil bagian
walaupun hanya kecil. Tidak dapat dipungkiri bahwa uang  yang mengalir dalam bisnis ini sangat banyak bahkan
bisa mencapai Triliunan per – bulan. Maka hal inilah yang mengiurkan bagi pihak
– pihak yang tidak bertanggungjawab tersebut. Seperti oknum – oknum dalam tubuh
pemerintahan juga terkadang ikut dalam ini. Semua hal tersebut tentu akan
menambah kemdahan akses untuk dapat 
meyalurkan barangnya ke konsumen mereka yang ada di Indonesia.

 

Sasaran Peredaran Gelap
Narkoba di Indonesia

Bila ditanya Siapa ajakah
yang menjadi sasaran dari peredaran gelap narkoba ini, maka jawabannya adalah
semua golongan dari masyarakat yang berada di Indonesia adalah sasaran mereka,
para Bandar jaringan ini dalam mengedarkan baranganya bisa dikatakan tidak
pandang bulu, asalkan mengguntungkan memperoleh omset sebanyak – banyaknya,
maka mereka bisa dikatakan sebagai konsumen. Tetapi dalam prakteknya tentu saja
mereka memiliki pasar potensial. Konsumen dari narkoba ini bila didatakan para
pekerja merupakan pasar yang paling berpotensi (lihat gambar 1.0).

Para pekerja memiliki
tingkat stress yang tinggi karena pekerjaan serta masalah keluarga, hal ini
membuat para pekerja merupakan sasaran yang empuk. Karena narkoba dinilai
sebagai pelarian yang paling sempurna. Di bawah pekerja ada pelajar dan
mahasiswa dengan prosesntase 22 % dalam 2015 dan semakin meningkat dalam 2017
ini4.  Kemudian yang terakhir adalah pengganguran
yang sebagai sasarannya.

SPEECH ACT

Sebagai batasan atau rem
dalam tindakan kejahatan luar biasa ini, tentu saja pemerintah Indonesia tidak
bisa hanya untuk berdiam diri. Tidak hanya pemerintah, pada faktanya para pegiat
aktivis anti – narkoba yang merasa empati terus menjalankan aksinya, mulai dari
para pelajar hingga mahasiswa sampai instansi pemerintah lainnya semua telah
mengalakkan anti – narkoba ini. Tidak hanya itu media juga ikut memberitakan
serta memberikan penyuluhan – penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya
narkoba.

Semua elemen masyarakat ikut
andil bagian dalam regulasi narkoba yang ada di Indonesia atau bottom up, pemerintah membuat regulasi
dan masyarakat mendorong agar regulasi – regulasi yang dinginkannya dapat
tercipta. Lalu bagaimana jika regulasi Indonesia tersebut, seperti hukuman mati
bagi para pengedar di tinjau dalam hukum internasional.

Hukum Indonesia

Setelah dikeluarkannya
UU No 9 Tahun 1976 tentang Narkotika, pemerintah memberikan sanksi pidana
kepada pengguna narkotika, sejak itu Hukuman pidana yang diberikan kepada
pengguna narkotika sampai dikeluarkannya UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Namun pemberian sanksi pidana
kepada pengguna narkotika tidak membawa dampak menurunnya angka perdagangan
gelap narkotika, malah justru menimbulkan permasalahan baru. Karena tidak
adanya pemisahan yang tegas antara pengedar narkotika dan pengguna narkotika,  hal ini yang mengakibatkan pemerintah
kehilangan fokusnya dalam mengatasi dan menangani permasalahan narkotika di
Indonesia5.

Sedangkan pengaturan pidana mati tentang kejahatan narkotika tidak secara khusus diatur dalam di dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), melainkan diatur secara umum dalam
Pasal 10 KUHP. Sejalan dengan ketentuan pasal tersebut, jenis-jenis pidana
dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (UU Narkotika) yang
dirumuskan adalah 4 (empat) jenis pidana pokok yaitu Pidana mati, Pidana
Penjara, Denda, serta Kurungan. Berlakunya aturan pemidanaan berdasarkan KUHP
akan tetap diterapkan (pidana mati, pidana penjara, denda serta kurungan),
namun untuk sanksi pidana mati terkait kejahatan narkotika ditentukan
tersendiri dalam UU Narkotika, maka diberlakukan aturan pemidanaan dalam
Undang-Undang Narkotika. Sedangkan untuk pasal dalam dalam
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang mencantumkan sanksi
pidana mati terdapat di dalam Pasal 116 ayat (2), Pasal 118 ayat (2) dan Pasal
119 ayat (2)6.

 

Hukum Internasional

Untuk Hukum Internasional
sendiri permasalahan narkoba ini masih menjadi sesuatu yang rumit, apalagi
mengenai hukuman mati bagi para pengedar. Dalam pembukaan Single Convention on
Narcotic Drugs pada tahun 1961, semua komisi tentang obat narkotika di
bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB (United Nations/UN) menyatakan
bahwa obat golongan narkotika sangat berguna
dalam dunia kesehatan. Namun, penggunaan narkotika semakin hari malah menjadi
semakin membahayakan tanpa standar medis tertentu, dan anjuran bagi pihak medis7. Hukum internasional dalam konverensi PBB telah mendiskusikan mengenai hukum
narkoba yang tertuang dalam, United Nations Conventions against Illicit
Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances kemudian
diadopsi pada tahun 1988 yang bertujuan untuk memberantas pencucian uang dari
kejahatan peredaran gelap narkotika dan psikotropika8. Tetapi mengenai hukuman mati internasional mempunyai pandangan lain
karena dinilai menodai hak hidup setip indivisu. Kemudian dalam Second
Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights;
Aiming at the Abolition of the Death Penalty yang diadopsi oleh Resolusi
Majelis Umum PBB pada 15 Desember 1989, secara tegas juga telah melarang praktik hukuman mati9.

Kesimpulan dan views of writer

Pertama, peredaran dan
peyalagunaan narkoba merupakan musuh bersama karena dinilai sangat berbahaya
dan langsung mengenai setiap individu serta menggangu keamanan individu.

Kedua, perdagangan serta peredaran
illegal narkoba merupakan salah satu bentuk kejahatan transnasional yang
memiliki jaringan internasional serta koneksi yang sangat luar biasa banyak.

Ketiga, Indonesia sendiri
sebagai Negara yang sangat besar dan luas merupakan sasaran yang empuk dalam
peredaran narkoba ini, hal ini dikarenakan masih kurangnya pengawasan terhadap
semua wilayah yang ada di Indonesia, tentu saja hal ini sangat menguntungkan
bagi pihak – pihak yang berkontribusi dalam kejahatan ini.

Keempat, Di era globalisasi
ini penyakit yang paling memprihatinkan adalah stress, sehingga semua orang perlu sebuah “jalan keluar” yang bisa
diambil untuk keluar dalam permasalahan sosial tersebut. Yang tidak lain adalah
menggunakan narkoba.

Yang terakhir, adalah dalam
kejahatan ini semua pihak harus peduli, waspada dan melek akan lingkungan
sekitar, semua pihak dapat berkontribusi dalam pencegahannya. Karena siapa saja
bisa menjadi pelaku, korban atau bahkan hanya saksi. Apalagi
di era digital seperti sekarang ini membuat masyarakat tidak salaing peduli
dengan sesama. Maka harus digalakkan lagi tentang peduli sesama. Kemudian ini juga dapat membuktikan bahwa jumlah
jaringan narkoba menanbah jumlah peredaran di Indonesia.