A. dapat mengajarkan rasa sopan santun kepada anak dengan

A.     Latar BelakangUsia dini merupakan golden age atauperiode emas bagi seorang anak. Pada usia 0 sampai 6 tahun otak anak mengalamipertumbuhan atau perkembangan yang sangat pesat. Pada usia dini merupakan tahapawal bagi perkembangan kemampuan motorik dan emosional anak. Dengan kemampuanperkembangan anak saat usia dini maka sangat diperlukan peran serta orang tuadalam membimbing anak, menggali potensi dalam diri anak. Maka dari itu usiadini merupakan tahap yang tepat dalam memberikan stimulasi kepada anak.

Pada usia dini perkembangan motorikanak semakin baik, sejalan dengan perkembangan kognitifnya yang mulai kreatifdan imajinatif. Daya imajinatif yang tinggi, membuat anak semakin suka menemukanhal-hal baru. Anak-anak pada usia dini memiliki karakter yang unik, merekalebih suka bermain dan bersenang-senang. Maka dari itu dibutuhkan metode-metodeyang pas untuk merangsang perkembangan anak. Banyak metode yang dapat dilakukanorang tua untuk menstimulasi kemampuan motorik anak yaitu dengan cara bernyayi,bermain dan bercerita. Metode bercerita ini dapat disebut juga denganstorytelling.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnyametode bercerita atau storytelling adalah metode yang paling banyak digunakanatau dianggap sebagai metode yang paling efektif untuk menstimulasi kemampuananak. Setiap metode yang digunakan pastinya memiliki kelemahan dan kelebihan,dari penelitian yang telah dilakukan storytelling dianggap mampu untukmemberikan nasehat kepada anak tanpa memberikan kesan memarahi anak, denganstorytelling anak dapat mengambil hikmah dari isi cerita. Dengan metodestorytelling ini anak akan merasa lebih nyaman karena dengan metodestorytelling ini para orang tua dapat menasehati anak dan memberikan pelajarantanpa kesan memarahi.1Michael dalam Muallifah menyatakanstorytelling merupakan sebuah metode yang mampu untuk mengembangkan kemampuankognitif dan bahasa anak.

Selain itu, storytelling juga memiliki bebrapamanfaat yaitu dengan storytelling dapat menanamkan sifat kejujuran, empati,simpati, keramahan, dan ketulusan kepada anak. Storytelling dapat memberikanpengetahuan moral, sosial dan kebudayaan kepada anak. Storytelling juga dapatmengajarkan rasa sopan santun kepada anak dengan mendengarkan orangbercerita.storytelling juga dapat meningkatkan kretifitas dan imajinasi anak.2Dari latar belakang diatas,storytelling merupakan sebuah metode yang dapat menggali potensi anak danmenumbuhkan kreatifitas bagi anak baik dari aspek kognitif, psikomotor danpengetahuan moral bagi anak. Storytelling memiliki berbagai manfaat yang dapatdijadikan metode oleh orang tua maupun guru pengajar dalam mengajarkan anak danuntuk meningkatkan kecerdasan anak. Maka dari itu penulis menarik untuk menulispenelitian dengan judul “STORYTELLING SEBAGAI METODE PARENTING UNTUKPENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK USIA DINI”.

semoga tulisan ini dapatdimanfaatkan sebagai bahn rujukan dalam mendidik anak bagi para orang tua. B.     TujuanTujuan dari paper ini yaitu untuk mengetahuistorytelling sebagai metode parenting untuk pengembangan kecerdasan anak usiadini, mengetahun manfaat storytelling melalui metode parenting untukmengembangkan kecerdasaan anak usia dini. Sehingga dari tujuan tersebut dapatmeningkatkan pemahaman orang tua dalam upaya meningkatkan kecerdasan anak. C.     Metode PenelitianMetode penelitian ini menggunalanpendekatan kualitatif. Pendektan penelitian kualitatif yaitu penelitian denganalat bantu untuk memaparkan dan memahami makna yang berasal dari individu dankelompok mengenai masalah sosial atau masalah individu.

3 Dalam penelitian inimelibatkan beberapa orang informan yaitu sebanyak 4 orang dintaranya 2 gurupaud yang menggunakan metode storytelling dan 2 orang tua yang seringmendongeng. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan melakukanwawancara kepada 2 guru paud dan 2 orang tua. Hasil dari wawancara tersebutkemudian ditarik kesimpulan untuk dianalisa. D.     Pembahasan dan Hasil1.     Pembahasana.      StorytellingMenurut Echols dalam Kuntumstorytelling terbagi atas dua suku kata yaitu story yang berarti cerita dan tellingberarti penceritaan. Jika digabungkan maka storytelling merupakan menceritakansebuah cerita atau penceritaan sebuah cerita.

Pendapat lain mengatakanstorytelling merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh pendongeng untukmenyampaikan isi pikiran atau perasaan secara lisan kepada orang lain. Makadapat disimpulkan storytelling merupakan menceritakan sebuah cerita dengantujuan untuk menyampaikan isi fikiran atau perasaan kepada seseorang dalamkonteks ini adalah anak-anak.4Storytelling tidak hanya bermanfaatbagi orang tua tetapi juga guru. Loban dalam kuntum mengatakan storytellingdapat dijadikan motivasi untuk mengembangkan kesadaran dan memperluasimajinasi. Kegiatan storytelling dapat dilakukan dalam berbagai keadaan baiksaat anak-anak sedang bermain, belajar, maupun menjelang tidur. Banyak dariorang tua menggiatkan storytelling kepada anaknya dalam keadaan anak sedangbermain maupun saat mau tidur.

Menurut Pellowski dalam Ritamendefinisikan storytelling sebagai sebuah seni atau seni dari sebuahketerampilan bernarasi dari cerita-cerita dalam bentuk syair atau prosa, yangdipertunjukkan atau dipimpin oleh satu orang di hadapan pendengar secaralangsung dimana cerita tersebut dapat dinarasikan dengan cara diceritakan ataudinyanyikan, dengan atau tanpa musik, gambar, ataupun dengan iringan lain yangmungkin dapat dipelajari secara lisan, baik melalui sumber tercetak, ataupunmelalui sumber rekaman mekanik. Metode storytelling atau bercerita merupakanmetode yang tepat dalam memenuhi kebutuhan tersebut karena dalam ceritaterdapat nilai-nilai yang dapat dikembangkan. Pengalaman dan kemampuan umat punikut diperhitungkan.5Hal yang harus diperhatikan dalamkegiatan storytelling adalah proses. Dalam proses storytelling terjadiinteraksi antara pendongeng dengan pendengarnya. Melalui proses ini dapatterjalin komunikasi antara pendongeng dengan pendengar. Karena kegiatanmendongeng ini penting bagi anak, maka kegiatan tersebut harus dengansedemikian rupa adar dapat lebih menarik.

Agar kegiatan storytelling yangdisampaikan menarik, maka dibutuhkan adanya tahapan – tahapan dalam mendongeng,teknik yang digunakan dalam mendongeng serta siapa saja pihak yang terlibatdalam kegiatan tersebut untuk menentukan lancar tidaknya proses ini berjalan. b.      Parenting (Pola Asuh)Parenting atau pola asuh secarabahasa diartikan sebagai kemampuan orang tua dalam mengasuh anak. Shohib dalamKuntum menyatakan bahwa parenting merupakan cara yang digunakan oleh orang tuauntuk mengasuh anak baik secara langsung maupun tidak langsung.

Baumrind dalamKuntum menyatakan bahwa pola asuh atau parental control merupakan bagian ataucara dari orang tua dalam mengontrol, membimbing serta mendampingi anak dalammelakukan segala tugas bagi perkembangan dan proses menuju pendewasaannya. Samahalnya dengan Kohn dalam kuntum mengatakan bahwa parenting atau pola asuh ataupengasuhan merupakan cara orang tua berinteraksi dengan anak yang meliputipemberian aturan, hadiah, hukuman dan pemberian perhatian, serta tanggapanorangtua terhadap setiap prilaku anak. Sedangkan Karen dalam Kuntum menyatakanbahwa kualitas pola asuh yang baik adalah apabila orangtua mampu mengontrol danmemahami masalah yang sedang dihadapi oleh anak, sehingga apabila anak memilikimasalah orangtua dapat mengetahui dan memberikan bimbingan kepada anak sesuaidengan masalah yang dihadapi anak.6Dari pendapat mengenai parentingatau pola asuh yang dinyatakan diatas menunjukan  bahwa parenting mencakup beberapa pemahaman,diantaranya:1)     Parenting bertujuan untuk mendorong pertumbuhan danperkembangan anak secara optimal, baik secara fisik, mental maupun sosial.2)     Parenting merupakan sebuah proses interaksi secaraterus-menerus antara orang tua dengan anak.

3)     Parenting adalah sebuah proses sosialisasi.4)     Parenting sebagai proses interaksi dan sosialisasiproses pengasuhan tidak bisa dilepaskan dari sosial budaya dimana anakdibesarkan.Menurut Baumrind dalam Muallifah,tipe parenting atau pola asuh ada tiga macam, yaitu:1)     Pola asuh authoritarian.2)     Pola asuh authoritative.3)     Pola asuh permisive.Berdasarkan tipe parenting ataupola asuh diatas maka masing-masing dari tipe memiliki ciri-ciri yang berbeda. Bentukpola asuh authoritarian memiliki ciri-ciri yaitu sebagai berikut:1)     Orangtua dalam memperlakukan anaknya bersifat tegas.

2)     Menghukum anak yang dianggap tidak sesuai ataumenimpang menurut orangtua.3)     Kurang memiliki kasih sayang dari orang tua.4)     Mudah menyalahkan segala aktivitas anak terutamaketika anak ingin berlaku kreatif.Pada prilaku authoritarian,orangtua suka memaksakan kehendak kepada anak-anaknya.

Anak-anak dipaksa untukpatuh terhadap aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh orangtua, berusahamembentuk tingkah laku, sikap serta cenderung mengekang keinginan anak-anaknya.Orangtua tidak memberikan apresiasi kepada anak saat mendapat prestasi yangmenurut anak akan dapat membanggakan orangtuanya, anak dituntut untuk besikapdewasa dan membatasi hak-hak anak.Pola authoritative mempunyaiciri-ciri sebagai berikut:71)     Hak dan kewajiban antara anak dan orangtua diberikansecara seimbang.2)     Orangtua melibat anak dalam mengambil sebuah keputusanyang penting terkait kepentingan keluarga, saling melengkapi pendapat antaraanak dan orangtua.3)     Memiliki tingkat pengendalian tinggi dan mengharuskananak-anaknya bertindak pada tingkat intelektual dan sosial sesuai usia dankemampuan mereka. Tetapi mereka tetap memberi kehangatan, bimbingan, dankomunikasi dua arah kepada anak.4)     Memberikan penjelasan dan alasan atas hukuman danlarangan yang diberikan oleh orangtua kepada anak.

5)     Mendukung apa yang saja hal dilakukan oleh anak, tanpamembatasi segala potensi yang dimilikinya serta kreativitasnya namun tetapmembimbing dan mengarahkan anak-anaknya. Sedangkan pola asuh permisive memilikiciri-ciri sebagai berikut:1)     Orangtua memberikan kebebasan kepada anaknya.2)     Anak tidak diajarkan untuk belajar bertanggung jawab.3)     Anak diberikan hak yang sama seperti halnya orangdewasa, anak diberikan kebebasan yang seluas-luasnya untuk mengatur dirisendiri.4)     Orangtua tidak banyak mengatur dan tidak banyakmengontrol, sehingga anak tidak diberi kesempatan untuk mandiri dan mengaturdiri sendiri dan diberikan kewenangan untuk mengontrol dirinya sendiri.Daripenjelasan dari tipe parenting di atas bisa disimpulkan bahwa tipe parentingatau  pola asuh model otoriatatif inimampu meningkatkan psikososial anak, lebih efektif memberikan kebebasan anakdalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan potensinya dan membuat anakmenjadi lebih kreatif. Pendapat inipun didukung oleh sebuah penelitian yangtelah dilakukan sebelumnya oleh Enoch Markum bahwa pola asuh tipe otoritatifdapat untuk berprestasi dan meningkatkan kreatifitas anak.

 c.      Storytelling sebagai MetodeParenting (Model Parenting Authoritative)Menggunakan metode storytellingsebagai metode parenting dapat memberikan banyak manfaat salah satunya yaitumembangun kecerdasan anak. Ada tiga model parenting namun yang paling efektifuntuk digunakan yaitu model parenting authoritative.

Parenting authoritativedigunakan dalam storytelling sebagai metode mencerdaskan anak, meningkatkankecerdasan bahasa anak, membuat anak menjadi lebih kreatif. Selain itu modelparenting authoritative ini juga mengajarkan pendidikan moral anak sejak usiadini dan dapat membangun kedekatan antara orang tua dan anak.1)     Storytelling sebagai Metode Mencerdaskan AnakStorytelling dianggap dapatmeningkatkan kecerdasan anak karena melalui cerita orangtua dapat melihatsejauh mana pemahaman yang dapat diambil oleh anak melalui cerita yang telahdibacakan. Tidak hanya bercerita saja, bercerita sambil bernyanyi bernyanyi,bercerita sambil bermain, bercerita sambil bertanya merupakan cara yang pasuntuk mengembangkan kecerdasan anak. Misalnya orang tua bercerita kepada anaktentang sikancil yang cerdik, orang tua dapat bercerita sambil bernanyi dengananaknya saat sang kancil berjalan menuju sungai, orang tua dapat mengajakanaknya bercerita sambil bermain saat sikancil menyeberangi sungai denganmenginjak punggung buaya, dan setelah akhir cerita orangtua dapat bertanyakembali kepada anaknya kenapa sikancil bisa menyeberangi sungai. Dengan metodebercerita seperti ini dapat menumbuhkan kecerdasan anak karena anak dituntununtuk menjawab bertanyaan dari cerita yang telah disampaikan, orangtua jugabisa menyuruh anak untuk menceritakan kembali hal yang dipahami anak daricerita yang telah disampaikan. Maka dari sinilah kecerdasan anak dapat dilihat,sejauh mana mereka mampu memahami cerita yang telah disampaikan oleh orangtua.2)     Storytelling Meningkatkan Kecerdasan Bahasa AnakStorytelling dianggap dapatmeningkatkan kecerdasan bahasa anak.

Dianggap dapat meningkatkan kecerdasanbahasa anak karena dalam penyampaian cerita biasanya memiliki banyak bentukkata sehingga saat bercerita akan muncul kata-kata baru yang belum pernah didengar oleh anak sebelumnya. Hal ini akan menimbulkan rasa ingin tau dari dalamdiri anak sehingga anak akan menanyakan apa makna atau maksud dari kata-katayang baru saja didengar oleh mereka, dari pertanyaan ini pencerita dapatmenjelaskan maksud dari kata-kata yang dipertanyakan oleh anak anak. Halsemacam inilah yang dapat memperkaya pengetahuan bahasa bagi anak. Contohnyasaja dalam sebuah kelas seorang guru sedang bercerita kepada muridnya, ketikasedang bercerita sang murid mengacungkan tangan dan bertanya makna dari kata”lembah” karena baru mendengarkan kata itu dari cerita yang dibacakan olehgurunya, maka gurunya menjawab lembah merupakan tanah yang rendah di kiri dankanan di dekat sungai atau gunung.

Maka dari pemaparan sang guru maka anakmengerti makna dari kata-kata yang belum mereka ketahui sebelumnya. Dari contohini maka dapat difahami bahwa melalui bercerita akan menambah kosa kata yangbelum diketahui oleh anak, yaitu dapat menambah tingkat kecerdasan bahasa padaanak usia dini.3)     Storytelling Membuat Anak KreatifStorytelling mampu meningkatkankreatifitas anak. Dianggap mampu meningkatkan kreatifitas anak karena dalamproses bercerita anak dapat berimajinasi dan membayangkan hal yang diceritakanoleh pencerita. Misalkan saja orang tua bercerita kepada anaknya Cinderellakeracunan karena memakan apel yang diberikan oleh nenek sihir, orang tua dapatmemperlihatkan bagaimana bentung apel dan warna apel kepada sang anak. Makadari itu anak akan mengetahui apel bentuknya bulat dan berwarnah merah. Setelahbercerita orangtua bisa menyuruh anak untuk menggambar apel, maka dari situtingkat kreatif sang anak dapat dilihat. Maka dari contoh ini dapat dikatakanstorytelling dapat meningkatkan kreatifitas anak.

84)     StorytellingMengajarkan Moral pada Anak Usia Dini Dalam sebuah cerita akan terdapattokoh protagonis yang dapat dijadikan tokoh panutan. Dengan metode ini orangtua dapat memberikan gambaran bagaimana perilaku orang baik yang dapat ditiruoleh anak. Misalnya orang tua bercerita kepada anaknya bahwa Bawang Putihadalah seorang anak yang jujur dan patuh kepada kedua orangtuanya, Bawang Putihselalu mengikuti apa perintah ibunya dan tidak melakukan hal yang dilarang olehayahnya, Bawang putih juga seorang anak yang rajin sekolah, belajar dan taatberibadah, Bawang Putih selalu bersyukur kepada tuhan saat diberi pertolongan,karena sikap baiknya Bawang Putih hidup berbahagia. Berbeda dengan Bawang Merahyang jahat, suka menyuruh Bawang Putih, suka berbohong, sering bolos sekolah,dan malas beribadah, oleh karena itu bawang merah hidup dalam kesusahan.Melalui cerita ini orang tua dapat memberikan nilai moral kepada anaknya bahwahal-hal yang dapat diambil atau ditiru oleh anak adalah tokoh baik karena orangbaik akan mendapat balasan yang baik, justru sebaliknya orang jahat akanmendapat balasan yang jahat.

Dari contoh diatas dapat dipahami bahwastorytelling dapat mengajarkan nilai moral kepada anak.95)     Membangun Attachment (Kelekatan) Antara Orangtua danAnak Storytelling bukan hanya dapatmengajarkan moral kepada anak tetapi juga dapat membangun kedekatan orangtuadan anak. Karena dengan bercerita maka akan terjalin komunikasi yang efektifdari orangtua kepada anak.

Orangtua dituntut untuk memberikan situasi yangmenyenangkan bagi anak sehingga anak dapat bertanya kepada orangtuanya saat adahal yang tidak dipahami, maka orangtua dituntut mampu menjelaskan secara tenangkepada anak. Contohnya saja saat bercerita anak bertanya kepada orangtuanyakenapa ibu tiri Cinderalla itu jahat, maka orangtua dituntut menjelaskan dengantenang. Maka dari contoh dapat difahami bahwa orangtua yang mampu menjawabpertanyaan dari anak akan terlatih secara emosional dari sinilah kedekatanantara orang tua dan anak dapat terjalin.10 2.

     HasilHasil dari penelitianini yaitu metode yang paling tepat untuk meningkatkan kecerdasan anak pada saatusia dini yaitu metode storytelling sebagai metode parenting dengan model polaasuh authoritative. Kebanyakan guru pada pendidikan anak usia dini menerapkanmetode ini dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya guru orangtua juga banyakmenggunakan metode ini, kebanyakan dari orang tua menceritakan sebuah ceritakepada anaknya ketika sebelum tidur. Metode ini dianggap dapat meningkatkankecerdasan anak.

Metode ini juga yang paling digemari oleh anak. Metode inidianggap tepat karena dengan metode bercerita anak merasa lebih santai karenatidak merasa dimarahi, anak-anak akan lebih mudah mengingat atau merekam ceritadaripada gambaran secara langsung. Selain itu, melalui cerita anak akan lebihfaham maksud atau hikmah dari cerita, apa saja hal yang boleh dan yang tidakboleh untuk dilakukan. Metode storytelling memiliki banyak manfaat bagi anakdiantaranya, untuk meningkatkan kecerdasan anak, meningkatkan kecerdasan bahasaanak, kreatifitas, penanamkan pendidikan moral, menanamkan sikap simpati bagisesama kepada anak, dan juga metode ini sangat berguna untuk mendekatkanorangtua dengan anak. Selain banyak manfaat dalam storytelling ada hal yangharus diperhatikan yaitu pemilihan jenis cerita, cerita yang dibacakan kepadaanak haruslah yang sesuai dengan kemampuan pemahaman anak. Selain jenis ceritahal yang harus diperhatikan yaitu gaya bahasa, menggunakan bahasa yangsederhana akan membuat anak lebih faham dan mengerti dari makna yang terkandungdalam cerita. E.

     Simpulan dan Saran1.     SimpulanSimpulan dari penelitin diatas yaitu untuk membangunkecerdasan anak terutama pada masa golden age dibutuhkan usaha dan perjuanganyang maksimal. Untuk dapat meningkatkan kecerdasan anak dibutuhkanmetode-metode, salah satu metode yang banyak digunakan adalah metodestorytelling sebagai metode parenting atau pola asuh yang dapat diterapkankepada anak.

Model parenting pun terbagi lagi menjadi tiga model yaitu pola asuh authoritarian, pola asuhauthoritative dan pola asuh permisive. Model yang cocok digunakan untukmeningkatkan kecerdasan anak yaitu model pola asuh authoritative. Model inidipercaya dapat menstimulus kecerdasan anak sejak usia dini. storytellingdengan menggunakan model ini memiliki berbagai macam manfaat bagi anak yaitumencerdaskan anak, mengajarkan pendidikan moral kepada anak, selain itu jugabermanfaat untuk meningkatkan kreatifitas anak dan menjalin hubungan yang lebihdekat lagi antara orang tua dan anak. Namun ada hal yang perlu diperhatikandalam menerapkan metode ini yaitu cerita yang akan disampaikan kepada anakharuslah yang sesuai dengan umur dan kemampuan anak dalam mencerna isi daricerita yang disampaikan.

2.     SaranDiharapkan untuk orang tua dalamproses mendongeng untuk anak harus memperhatikan aspek-aspek bercerita agarcerita yang disampaikan oleh orang tua dapat dipahami dengan mudah oleh anak.Orang tua harus mampu memilih cerita yang dapat menstimulus anak untuk meningkatkankecerdasan emosi anak. Cerita yang dipilih haruslah sesuai dengan usia anak,anak pada usia dini tidak mampu mencerna cerita yang berat pilihlah ceritadengan gaya bahasa yang sederhana.1 Muallifah. “STORYTELLING SEBAGAIMETODE PARENTING UNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK USIA DINI.

” JurnalPsikoislamika Vol. 10, No. 1 (2013). h.99.2 Adhim, F. 2006.

Positive Parentingcara-cara Islami Mengembangkan Karakter positif Pada Anak. Bandung: Mizan MediaUtama3 Creswell, John W. Research Design: PendekatanKualitatif, Kuantitatif, Dan Mixed. Ed. 3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2010. h. 352.

4 Kuntum Khaira. “MELAHIRKAN GOLDEN GENERATION MELALUIGOLDEN PARENTING.” e-Journal Institut Agama Islam Negeri Batusangkar Vol.

4, No. 1 (2016). h. 294.5 Rita Diyah Ayuni. “PENGARUH STORYTELLING TERHADAPPERILAKU EMPATI ANAK.

” Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol 12, No. 2(2013).6 Kuntum Khaira.

“MELAHIRKAN GOLDEN GENERATION MELALUIGOLDEN PARENTING.” e-Journal Institut Agama Islam Negeri Batusangkar Vol.4, No. 1 (2016).

h. 2967 Muallifah. “STORYTELLING SEBAGAI METODE PARENTINGUNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK USIA DINI.” Jurnal Psikoislamika Vol.10, No.

1 (2013). h. 1018 Nyoman Radin Amanda, Putu Aditya Antara dan MutiaraMagta.

“HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN REGULASI DIRI ANAK USIA 5-6 TAHUN.”e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha Vol. 4,No. 2 (2016).9 M. Arif Khoeruddin, Imam taulabi dan Ali Imron.”MENUMBUHKAN MINAT BACA SEJAK DINI DI TAMAN BACA MASYARAKAT.

“Jurnal LisanAl-Hal Vol. 9, No. 1 (juni 2017). h. 153.10 Saiful Hadi.

“POLA PENGASUHAN ISLAMI DALAM PENDIDIKANKELUARGA.” Jurnal Tadris Vol. 12, No.

1 (Juni 2017). h. 124.